Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) menarik minat banyak pasien. Sebelum sesi pertama di Klinik Darma Nusantara, ada tiga hal yang sebaiknya Anda periksa. Pertama, apakah kondisi Anda termasuk indikasi yang diakui. Kedua, seberapa kuat bukti ilmiahnya. Ketiga, apakah sesi dijalankan di bawah pengawasan dokter.
Pemeriksaan ini penting karena HBOT bukan satu terapi untuk semua keluhan. Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA), HBOT hanya dianggap aman dan efektif untuk kondisi medis tertentu. Artikel ini membantu Anda membaca ketiga hal tersebut dengan bahasa sederhana sebelum menandatangani persetujuan tindakan.
Apa itu HBOT dan berapa lama satu sesi?
Terapi oksigen hiperbarik adalah pemberian oksigen konsentrasi tinggi di dalam ruang bertekanan lebih besar daripada tekanan udara biasa. Menurut materi webinar HBOT 2025 di LMS Kementerian Kesehatan RI, terapi ini biasanya diberikan pada tekanan sekitar 1 hingga 3 atm dengan durasi sesi sekitar 90 hingga 120 menit.

Tekanan dan durasi sesungguhnya bergantung pada protokol dan kondisi pasien. Pertanyaan tentang jumlah sesi dan target terapi sebaiknya diajukan langsung kepada dokter yang memeriksa Anda.
Apakah kondisi saya termasuk indikasi yang diakui?
Belum tentu, karena indikasi HBOT terbatas pada kondisi tertentu. Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS) mencantumkan sejumlah indikasi yang disetujui. Tinjauan lama menyebut 14 indikasi, sedangkan kajian registri yang lebih baru menyebut 15 kondisi yang diakui UHMS.
Perbedaan angka itu menunjukkan bahwa daftar indikasi dapat berubah. Tanyakan indikasi terbaru kepada dokter, jangan hanya mengandalkan brosur. Tabel berikut merangkum status beberapa kondisi menurut bahan riset.
| Status | Contoh kondisi | Catatan |
|---|---|---|
| Diakui UHMS | Sejumlah kondisi tertentu | Jumlahnya 14 dalam tinjauan lama dan 15 dalam kajian registri yang lebih baru |
| Dirujuk ke fasilitas hiperbarik menurut Kemenkes | Penyakit dekompresi | Pasien perlu segera dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas terapi oksigen hiperbarik |
| Terapi tambahan menurut Kemenkes | Tuli mendadak | Kemenkes merujuk rekomendasi American Academy of Otolaryngology tahun 2011 |
| Belum disetujui regulator untuk beberapa kondisi mata | Oklusi arteri retina | Menurut tinjauan oftalmologi, sudah digunakan sebagai terapi tambahan |
| Belum terbukti menurut FDA | Kanker, autisme, diabetes | FDA menyatakan belum terbukti secara klinis dapat menyembuhkan atau efektif |
Seberapa kuat bukti HBOT untuk kondisi saya?
Kekuatan bukti berbeda untuk tiap kondisi, jadi jawabannya harus dinilai per kondisi. Berikut urutan yang membantu Anda membaca informasi.

- Pedoman dan regulasi, seperti FDA, UHMS, atau Kemenkes, yang menyebut indikasi dan batasannya.
- Uji klinis awal, yang berguna untuk arah penelitian tetapi belum cukup untuk memastikan manfaat. Contohnya studi klinis awal pada luka diabetes kronis yang menganalisis biomarker setelah HBOT, dengan jumlah pasien kecil dan beberapa pasien keluar dari studi.
- Berita dan materi promosi, yang perlu diverifikasi dengan sumber resmi.
Sebuah kajian registri mencatat 378 kasus HBOT untuk kondisi di luar indikasi resmi UHMS. Artinya, banyak penggunaan HBOT masih berada di luar indikasi yang diakui. Penggunaan seperti itu perlu dibahas terbuka dengan dokter karena dasar buktinya lebih terbatas.
Apa risiko dan efek samping HBOT?
HBOT memiliki risiko yang perlu dipahami sebelum sesi. Protokol uji klinis HBOT di ClinicalTrials.gov menyebut efek samping seperti nyeri atau perubahan pada telinga tengah, trauma sinus, gangguan penglihatan, kejang akibat toksisitas oksigen, dan pneumotoraks. Sesi juga sulit dijalani oleh pasien dengan mual atau klaustrofobia.
FDA juga mencatat bahwa oksigen konsentrasi tinggi di dalam ruang hiperbarik menimbulkan risiko kebakaran. Karena itu, aturan keselamatan di dalam ruangan harus dipatuhi. Sampaikan riwayat kesehatan Anda selengkap mungkin kepada dokter sebelum sesi.
Bagaimana HBOT berbeda dari terapi sel punca?
HBOT adalah terapi oksigen, bukan terapi berbasis sel punca. Sel punca adalah sel yang dapat membelah diri dan berkembang menjadi jenis sel tertentu, dan pemanfaatannya dibahas dalam bidang regenerative medicine. Kedua pendekatan dinilai dengan dasar bukti dan pengawasan regulator yang berbeda.
Sebagian penelitian menganalisis faktor pertumbuhan dan biomarker setelah HBOT, misalnya pada luka diabetes kronis. Namun temuan awal berskala kecil itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa HBOT mengaktifkan sel punca atau meningkatkan keberhasilan terapi sel punca. Bila brosur membuat klaim semacam itu, bacalah dengan hati-hati. Panduan membaca brosur klinik HBOT tersedia di HBOTNews.
Untuk klaim terapi sel punca, artikel Tanda Bahaya Brosur Sel Punca: Cara Membaca Klaim Sebelum Anda Memutuskan dapat membantu mengenali pernyataan yang perlu diverifikasi.
Apakah sesi diawasi dokter dan fasilitasnya sesuai standar?
Pasien berhak menanyakannya. FDA merekomendasikan HBOT dijalankan di bawah pengawasan dokter dan di fasilitas yang memiliki akreditasi hiperbarik. FDA juga menyebut ruang hiperbarik sebagai perangkat medis yang memerlukan clearance untuk penggunaan tertentu. Beberapa pertanyaan berikut dapat diajukan sebelum sesi pertama:
- Siapa dokter yang bertanggung jawab atas indikasi dan pemantauan sesi Anda?
- Apakah tim terdiri dari dokter, perawat, dan teknisi? Direktorat Mutu Tenaga Kesehatan Kemenkes mensyaratkan susunan tim tersebut dalam pelatihan penatalaksanaan layanan TOHB.
- Apakah fasilitas mengacu pada standar pelayanan medik hiperbarik? JDIH Kemenkes memuat keputusan menteri tentang standar itu yang berlaku sejak 6 Februari 2008. Nomor peraturannya perlu diverifikasi langsung di JDIH.
- Bagaimana efek samping atau kejadian tidak diinginkan ditangani dan dilaporkan?
Panduan skrining dan persetujuan tindakan dapat dibaca di HBOTNews.
Relevansi untuk Indonesia
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI memuat standar pelayanan medik hiperbarik dan menyelenggarakan pelatihan bagi tenaga kesehatan yang mengelola layanan TOHB. Untuk penyakit dekompresi, Kemenkes menyebut pasien perlu segera dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas terapi oksigen hiperbarik.
Karena nomor peraturan perlu diverifikasi di sumber resmi, pasien sebaiknya tidak hanya bergantung pada brosur. Penjelasan tertulis dari dokter dan pengecekan ke kanal resmi Kemenkes adalah langkah yang lebih aman.
Klinik Darma Nusantara: langkah sebelum sesi pertama
Klinik Darma Nusantara di Jl. Raya Serang Km. 9, Curug, Tangerang, Banten, menyediakan Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT). Klinik ini juga menyediakan dokter umum, dokter gigi, kebidanan, apotek, dan layanan gawat darurat 24 jam.
Sebelum memutuskan sesi pertama, bawalah daftar pertanyaan ke dokter: indikasi yang sesuai dengan kondisi Anda, bukti yang tersedia, pengawasan dokter selama sesi, dan cara pemantauan efek samping.
Kesimpulan: periksa tiga hal, lalu konsultasi
Sebelum sesi pertama HBOT, periksa indikasi yang diakui untuk kondisi Anda, kekuatan bukti yang tersedia, dan pengawasan dokter di fasilitas tersebut. Penanganan yang tepat bergantung pada kondisi medis Anda dan penilaian tenaga kesehatan profesional, bukan pada janji hasil dari brosur atau iklan.
Untuk informasi layanan, Anda dapat menghubungi Klinik Darma Nusantara melalui situs resminya dan mendiskusikan kesesuaian HBOT dengan tenaga medis.
Terapi Hiperbarik Oksigen bukan terapi sel punca, dan kesesuaiannya selalu ditentukan dokter setelah pemeriksaan. Untuk informasi layanan HBOT di Klinik Darma Nusantara di Curug, Tangerang, hubungi klinik lewat WhatsApp atau kunjungi website resmi Klinik Darma Nusantara.

Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah HBOT bisa menyembuhkan kanker, autisme, atau diabetes?
Belum terbukti. FDA menyatakan HBOT belum terbukti secara klinis dapat menyembuhkan atau efektif untuk kanker, autisme, atau diabetes. Pasien dengan kondisi tersebut sebaiknya tidak menunda terapi medis yang sudah terbukti.
Apakah HBOT sama dengan terapi sel punca?
Tidak. HBOT memberikan oksigen konsentrasi tinggi di dalam ruang bertekanan, sedangkan terapi sel punca memakai sel sebagai bagian dari terapinya. Keduanya dinilai dengan dasar bukti yang berbeda.
Siapa yang seharusnya mengawasi sesi HBOT?
Dokter. FDA merekomendasikan HBOT dijalankan di bawah pengawasan dokter dan di fasilitas yang memiliki akreditasi hiperbarik.
Ke mana melaporkan masalah serius setelah HBOT?
Di Amerika Serikat, FDA menyediakan program MedWatch untuk pelaporan sukarela. Di Indonesia, sampaikan keluhan kepada dokter atau fasilitas yang menangani Anda.
Referensi
- U.S. Food and Drug Administration (FDA), Consumer Update tentang terapi oksigen hiperbarik
- U.S. Food and Drug Administration (FDA), Hyperbaric Oxygen Therapy: Get the Facts
- Emerging Indications for Hyperbaric Oxygen Treatment: Registry Cohort Study (mengutip UHMS), PMC
- Kementerian Kesehatan RI, LMS Kemenkes, materi webinar HBOT 2025
- Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Penyakit Dekompresi
- Protokol uji klinis Hyperbaric Oxygen for COVID-19 Patients, ClinicalTrials.gov
Kredit gambar
- Foto: Paulbuza via Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
- Foto: Shixart1985 via Wikimedia Commons, CC BY 2.0
- Foto: Courtney Elizabeth via Wikimedia Commons, CC0
- Foto: Klinik Darma Nusantara (darmanusantararaya.com), digunakan dengan izin.
Konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Keputusan terapi bergantung pada kondisi medis dan penilaian tenaga kesehatan profesional.


