Pasien yang mempertimbangkan bone setting, akupunktur, atau terapi sel punca sering bertanya hal yang sama: apa yang harus dicek sebelum memutuskan? Pertanyaan pertama sebaiknya bukan soal kenyamanan tempat atau kesan promosi, melainkan status izin, dasar bukti, dan risiko. Artikel ini menyusun checklist keselamatan sel punca berdasarkan panduan regulator dan tinjauan sistematis, agar pembaca bisa mengajukan pertanyaan yang tepat kepada fasilitas.
Ketiga jenis layanan ini berada pada kategori yang berbeda. Bone setting dan akupunktur merupakan pendekatan konservatif untuk keluhan otot, sendi, dan tulang belakang. Terapi sel punca adalah produk biologis yang status regulasinya diatur ketat. Mencampurkan ketiganya dapat membuat pasien mengira satu layanan sudah terbukti seperti layanan lainnya.
Checklist ini tidak menggantikan penilaian tenaga kesehatan. Diagnosis dan pilihan penanganan yang tepat bergantung pada kondisi medis masing-masing pasien.
Mengapa Status Izin Harus Dicek Pertama
FDA Amerika Serikat menyatakan bahwa satu-satunya terapi sel punca yang disetujui untuk penyakit tertentu adalah produk untuk gangguan kanker, darah, dan sistem imun. Penggunaan untuk artritis atau nyeri cedera dinilai belum disetujui dan dipasarkan secara ilegal. Karena itu, klaim sel punca untuk keluhan muskuloskeletal perlu diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dibuktikan dengan dokumen.

FDA juga menyatakan bahwa untuk hampir semua produk sel punca, belum diketahui apakah ada manfaatnya atau apakah produk itu aman digunakan. Pernyataan ini berasal dari regulator, bukan dari materi pemasaran, dan menjadi alasan mengapa pasien perlu membedakan antara uji klinis, persetujuan, dan layanan komersial.
Checklist Pertanyaan Sebelum Menjalani Terapi
Gunakan daftar berikut sebagai acuan saat berkonsultasi dengan fasilitas:
- Apakah produknya disetujui atau sedang diteliti? FDA meminta pasien memastikan bahwa terapi sel punca sudah disetujui atau sedang diteliti di bawah Investigational New Drug Application (IND) yang telah disetujui FDA. Tanyakan juga indikasi spesifiknya, bukan hanya nama produk.
- Mintalah dokumen uji klinis. FDA menyarankan pasien meminta klinik menunjukkan dokumen bahwa uji klinis berjalan di bawah IND aktif. Waspadai tawaran uji klinis yang dibiayai pasien sendiri.
- Cek dasar regulasi di Indonesia. Kemenkes RI mengatur penyelenggaraan pelayanan sel punca melalui Permenkes No. 32 Tahun 2018. Untuk bidang orthopaedi dan traumatologi, pedomannya tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1359/2024 yang ditandatangani pada 5 September 2024.
- Tanyakan asal dan pengolahan produk. Kemenkes juga mencantumkan Permenkes 50/2012 tentang laboratorium pengolahan sel punca dan Permenkes 62/2013 tentang bank jaringan dan/atau sel. Pastikan fasilitas dapat menunjukkan dokumen asal sel dan proses pengolahannya.
- Minta penjelasan risiko secara tertulis. Pahami manfaat yang belum pasti, risiko yang mungkin terjadi, dan alternatif yang tersedia sebelum menandatangani persetujuan. Panduan rinci ada di artikel informed consent sel punca.
- Tanyakan penanganan keluhan dan rujukan. Pastikan fasilitas memiliki prosedur bila keluhan muncul setelah terapi, siapa yang dihubungi, dan kapan pasien perlu dirujuk ke fasilitas gawat darurat.
- Tanyakan jalur pelaporan efek samping. Ketahui kepada siapa keluhan dilaporkan dan bagaimana riwayat terapi dicatat.
Apa Kata Bukti tentang Bone Setting dan Akupunktur
Sebuah tinjauan sistematis dari 12 studi observasional tentang tradisional bone setter di negara berpendapatan rendah dan menengah mencatat 691 komplikasi dari 833 peserta, termasuk komplikasi anggota gerak dan kematian. Studi ini menggambarkan praktik tradisional di konteks tertentu dan tidak otomatis berlaku untuk setiap layanan bone setting. Namun, temuannya menunjukkan bahwa pertanyaan tentang keamanan harus diajukan sejak awal.
Untuk akupunktur, tinjauan sistematis yang menggabungkan 17 tinjauan menemukan empat kelompok efek samping: cedera organ atau jaringan, infeksi, reaksi lokal, dan keluhan seperti pusing atau pingsan. Di sisi lain, meta-analisis 30 uji acak terkontrol dengan 2.662 peserta pada sciatica menemukan efektivitas yang lebih baik dibanding terapi obat, dengan kepastian bukti bervariasi dari sedang hingga sangat rendah, serta sedikit efek samping. Hasil ini menunjukkan bahwa akupunktur memiliki dasar penelitian, tetapi kemungkinan efek samping tetap perlu dipertimbangkan.
| Jenis bukti | Contoh dalam bahan riset | Cara membacanya |
|---|---|---|
| Studi observasional | 12 studi tradisional bone setter | Menunjukkan pola komplikasi, belum membuktikan efek terapi |
| Tinjauan sistematis | 17 tinjauan akupunktur | Mengidentifikasi kelompok efek samping yang perlu dipantau |
| Uji acak terkontrol (meta-analisis) | 30 uji pada sciatica | Menunjukkan hasil yang menjanjikan dengan kepastian bukti bervariasi |
| Persetujuan regulator | FDA untuk produk sel punca tertentu | Hanya berlaku untuk indikasi spesifik yang disetujui |
Sel Punca dan Regenerative Medicine: Membedakan Tingkat Bukti
Penelitian sel punca dan regenerative medicine berkembang pesat, tetapi tidak semua temuan laboratorium atau studi awal dapat langsung dijadikan layanan klinis. Dalam panduan konsumennya, FDA mendorong pasien dan tenaga kesehatan melaporkan efek samping atau cedera setelah terapi produk regeneratif, termasuk sel punca dan eksosom, melalui program MedWatch. Pengumuman itu menegaskan bahwa pemantauan pascaterapi merupakan bagian penting dari keselamatan.
FDA juga memperingatkan tentang produk eksosom yang dipasarkan dari negara yang mungkin tidak mewajibkan tinjauan regulasi terhadap uji klinis. Dalam kondisi seperti itu, sulit mengetahui apakah terapi eksperimental cukup aman, dan FDA biasanya memiliki sedikit informasi tentang fasilitas asing.
Di Indonesia, BPOM menyerahkan sertifikat CPOB kepada fasilitas pengembangan terapi sel punca PT Daewoong Biologics Indonesia pada 12 September 2024, dan menyebut Indonesia sudah memiliki empat fasilitas pengembangan sel punca bersertifikat CPOB. Sertifikat tersebut menunjukkan kepatuhan fasilitas pengembangan pada standar pembuatan obat yang baik. Sertifikat ini tidak otomatis berarti bahwa setiap layanan klinik yang menawarkan terapi sel punca sudah terbukti efektif.
Chirobone sebagai Contoh Penerapan Checklist
Chirobone adalah klinik bone setting di Bintaro dan Gading Serpong yang menyediakan layanan bone setting, akupunktur, dan sport massage. Chirobone bukan layanan terapi sel punca, bukan chiropractic, dan tidak menyediakan fisioterapi. Pasien yang berkonsultasi dapat memakai checklist di atas sebagai contoh: menanyakan jenis layanan yang dipilih, dasar penilaian keluhan, kemungkinan efek samping dari bone setting atau akupunktur, penanganan bila keluhan tidak membaik, dan rujukan bila diperlukan.
Untuk gambaran tentang memilih perawatan konservatif seperti ini, baca juga panduan memilih perawatan bone setting, akupunktur, dan sport massage di HBOTNews. Untuk pertanyaan serupa yang bisa diajukan ke fasilitas kesehatan lain, lihat juga pertanyaan yang perlu diajukan ke fasilitas layanan HBOT.
Relevansi untuk Indonesia
Nota dinas Direktorat PPKR Kemenkes menyebut bahwa layanan sel punca di Indonesia menghadapi tantangan, antara lain keterbatasan informasi dan pemahaman masyarakat tentang alternatif pengobatan dengan sel punca, serta keterbatasan fasilitas dan sarana. Kondisi ini membuat pasien perlu lebih aktif bertanya dan meminta dokumen. Pasien juga dapat memeriksa daftar regulasi sel punca yang dipublikasikan Kemenkes sebagai rujukan awal.
Bagi pengelola fasilitas, transparansi dokumen, prosedur penanganan keluhan, dan sistem pencatatan efek samping menjadi bagian dari kepatuhan terhadap pedoman. Bagi pasien, pertanyaan yang diajukan sejak awal adalah cara paling sederhana untuk mengurangi kebingungan.
Pelaporan dan Pemantauan setelah Terapi
Keluhan yang muncul setelah terapi perlu dicatat dengan tanggal, gejala, dan tindakan yang sudah dilakukan. Catatan ini membantu tenaga kesehatan menilai apakah keluhan perlu penanganan lanjutan. Panduan tentang pemantauan dan jalur pelaporan dapat dibaca di artikel cara memantau efek samping setelah terapi sel punca dan ke mana melapor.
Kesimpulan: Tanyakan Risikonya Dulu
Checklist keselamatan sel punca membantu pasien memisahkan layanan yang sudah memiliki dasar bukti, layanan dengan bukti terbatas, dan terapi yang masih berada dalam tahap penelitian. Mulailah dengan pertanyaan tentang izin, dokumen uji klinis, risiko tertulis, penanganan keluhan, dan jalur pelaporan. Jawaban yang jelas dan dapat ditunjukkan dengan dokumen adalah tanda awal yang baik untuk melanjutkan konsultasi.
Jika Anda ingin mengetahui jenis layanan bone setting, akupunktur, dan sport massage di Chirobone, informasi cabang dan layanan tersedia di website resmi Chirobone. Sebelum memutuskan, konsultasikan kondisi Anda dengan tenaga kesehatan profesional.
Untuk keluhan otot, sendi, atau postur, salah satu pilihan perawatan konservatif adalah bone setting. Chirobone, klinik bone setting di Bintaro dan Gading Serpong, juga menyediakan akupuntur dan sport massage. Bone setting bukan terapi sel punca maupun HBOT, dan keluhan berat tetap perlu dievaluasi dokter. Informasi cabang ada di situs resmi Chirobone.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah bone setting termasuk terapi sel punca?
Tidak. Bone setting bukan terapi sel punca, dan Chirobone menegaskan bahwa layanannya bukan terapi sel punca. Terapi sel punca merupakan kategori terapi berbeda dengan status regulasi tersendiri.
Bagaimana cara mengecek apakah terapi sel punca yang ditawarkan legal?
Tanyakan apakah produknya disetujui FDA untuk indikasi tertentu atau sedang diteliti di bawah IND aktif, lalu minta dokumennya. Di Indonesia, periksa juga dasar regulasi seperti Permenkes 32/2018 dan KMK HK.01.07/MENKES/1359/2024 untuk bidang orthopaedi dan traumatologi.
Apakah akupunktur memiliki risiko?
Ya, tinjauan sistematis menemukan beberapa kelompok efek samping, antara lain cedera jaringan, infeksi, reaksi lokal, dan keluhan seperti pusing atau pingsan. Karena itu, pasien perlu menanyakan penanganan efek samping sebelum menjalani terapi.
Ke mana melaporkan efek samping setelah terapi sel punca?
FDA mendorong pasien dan tenaga kesehatan melaporkan efek samping setelah produk regeneratif melalui program MedWatch. Di Indonesia, tanyakan kepada fasilitas jalur pelaporan yang berlaku dan catat keluhan sejak awal.
Referensi
- FDA (Food and Drug Administration, Amerika Serikat), For Consumers: informasi konsumen tentang produk sel punca, fda.gov (tahun tidak tercantum dalam catatan riset)
- FDA, Consumer Alert: Regenerative Medicine Products Including Stem Cells and Exosomes, 2020
- Kemenkes RI, Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1359/2024 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terapi Sel Punca di Bidang Orthopaedi dan Traumatologi, 2024
- Kemenkes RI, Daftar Regulasi Sel Punca, keslan.kemkes.go.id (tahun tidak tercantum dalam catatan riset)
- BPOM RI, Penyerahan Sertifikat CPOB kepada Fasilitas Pengembangan Terapi Sel Punca, pom.go.id, 2024
- Tinjauan sistematis tentang tradisional bone setter di negara berpendapatan rendah dan menengah, PMC (PubMed Central) (tahun tidak tercantum dalam catatan riset)
- Safety of Acupuncture: Overview of Systematic Reviews, PMC (PubMed Central) (tahun tidak tercantum dalam catatan riset)
- CDC (merujuk pada regulasi dan panduan FDA untuk pasien tentang produk sel punca), archive.cdc.gov (tahun tidak tercantum dalam catatan riset)
Kredit gambar
- Foto: The U.S. Food and Drug Administration via Wikimedia Commons, Public domain
- Foto: Keene Public Library and the Historical Society of Cheshire County from USA via Wikimedia Commons, Public domain
- Ilustrasi dibuat dengan AI untuk keperluan editorial.
Konten ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Keputusan terapi bergantung pada kondisi medis dan penilaian tenaga kesehatan profesional.


